Hari ini saya memulai rutinitas sebagai seorang mahasiswa kembali, setelah minggu lalu berkutat dengan UTS. Dan jadwal untuk hari Kamis adalah Pancasila dan Pengantar Ilmu Hukum. Ada hal menarik, lebih tepatnya sebuah pelajaran berharga yang saya dapatkan hari ini.
Setelah menempuh waktu yang cukup lama dari ujung dunia rumah ke kampus dan ditambah dengan semakin padatnya jalan Godean, saya dikejutkan karena yang mengajar Pancasila bukan dosen seperti biasanya. Kali ini diajar oleh Mas Irwan, masih lajang dan muda tentunya. Kuliah berjalan membahas tentang susunan Pancasila. Kuliah usai dengan setengah jam tersisa. Kemudian diisi dengan semacam pertanyaan-pertanyaan softskills yang tentunya di luar materi perkuliahan. Pada intinya kita diajak untuk berpikir out of the box dalam mencerna dan menjalankan suatu hal. Jangan hanya memahami sesuatu dengan mentah-mentah saja. Orang dituntut untuk berpikir sesuatu yang membuatnya terlihat berbeda namun masih dalam jalan yang benar. Dan ditutup dengan sebuah tayangan yang membuat pikiran ini terbuka. Dalam video itu diceritakan ada seorang pengemis tunanetra yang duduk di pinggir jalan dengan tulisan di kardus kurang lebih seperti ini : I'm blind. I need money, please help. Orang-orang yang lewat memberinya sedekah seadanya sampai ada seorang wanita muda berkacamata lewat dan berhenti menghampiri pengemis itu. Kemudian wanita itu terlihat menuliskan sesuatu pada kardus itu, mengganti tulisan yang sebelumnya. Setelah itu banyak orang yang memberi sedekah melimpah kepada si pengemis. Mengapa demikian? Tulisan wanita pada kardus itu yang mengubah segalanya. Ternyata wanita tadi menulis seperti ini : It's a beautiful day. But I can't see it. Kemudian Mas Irwan memberi penjelasan mengapa ia menampilkan video tersebut. Hal yang sama namun berbeda kata-kataya akan sangat berpengaruh untuk dunia ini. Implementasinya, esok hari ketika kita menjadi pihak yang berwenang untuk membuat undang-undang atau peraturan hukum apapun, buatlah dengan kata-kata yang pas. Jangan berbelit-belit dan menggunakan kata-kata yang susah dimengerti. Sehingga masyarakat akan bisa memahaminya dengan baik dan mudah.
Setelah itu pindah ke gedung lain untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum. Sebelah kiri saya ada seorang yang luar biasa, baru saja saya berkenalan dengannya hari ini, namanya Mbak Nandya, kakak angkatan tahun 2009. Dia mengikuti kelas ini untuk menambah pengalaman, karena tinggal mengurus skripsi. Mbak Nandya sangat aktif dalam melakukan penelitian. Saya kagum dengan jalan berpikirnya. Sejak SMP dia sudah terjun langsung dalam kegiatan yang bersifat sosial. Dia aktivis dalam pendampingan anak-anak HIV dan di Jogja ini turut dalam kegiatan yang memperhatikan kaum waria. Mbak Nandya yang mengambil konsentrasi Hukum Internasional ini juga pernah magang di Kementrian Luar Negeri dan ditempatkan sebagai orang yang mengurus persoalan pengungsi (kalau tidak salah sih begitu, agak lupa soalnya hehe). Dia berkata bahwa beruntung bisa magang disana, karena menurutnya keberuntungan itu datang kepada orang yang benar-benar siap. Saya juga sempat bertanya mengapa dia tidak mencoba ikut seleksi Indonesia Mengajar saja? Dia bilang sudah ada keinginan dan banyak teman yang sudah menyarankan, namun untuk saat ini masih banyak terikat penelitian-penelitian (hebat banget bro!). Dan Mbak Nandya juga menambahkan, "Pak Anies sendiri udah memintaku untuk jadi pengajar muda di Indonesia Mengajar hehe". Hei bro, semakin keren saja, diminta langsung sama Pak Anies brooo!!! Selain itu Mbak Nandya juga menekankan pilih dan jalani apa yang kamu senangi, jangan hanya karena ingin ikut-ikut teman.
"Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Aku enggak mengejar uang. Buat apa materi berlimpah tapi nggak berguna buat orang lain? Dengan aku melakukan banyak kegiatan sosial, terjun langsung ke masyarakat, ke daerah konflik, aku bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang baru, dan aku menemukan kepuasan disitu. Pengalaman berkegiatan sosial itu yang nggak bisa dibeli dengan uang." -Mbak Nandya, Fakultas Hukum UGM 2009.
